Teng.. Teng.. Teng..
Bel sekolah berbunyi tiga kali, pertanda pelajaran telah berakhir. Pak Kardi, kepala sekolah berumur paruh baya, stelan kemeja putih berdasi dengan celana hitam, dengan rambut yang sedikit memutih di blakang atas bagian kepalanya, paling sering memukul lonceng besar yang ada di depan kantor tersebut, tak ada petugas khusus, tapi yang paling sering adalah beliau.
"Hoaammz" Rinto menguap.
"Kebo, iler tuh, bersihin napa" Hendra menunjuk pada bibir bawah Rinto yang terlihat jelas air liur mengalir perlahan.
"Ehmmm, biarin ahhh, bluk..." kepala Rinto menempel lagi di bangku.
Seisi kelas tak terlalu memperhatikan apa yang terjadi dibangku Hendra dan Rinto, semua sibuk merapikan buku dan alat-alat tulis yang mazih ada diatas meja mereka, laci meja yang penuh bungkus makanan ringan dan permen semua dibersihkan, dan hampir semua anak melakukanya, cukup banyak, menandakan pelajaran terakhir siang itu begitu membosankan, sudah menjadi kebiasaan mereka membawa cemilan, dari 28 anak yang ada, 12 diantara mereka sudah dipastikan membawa cemilan maupun permen, sebagai penghilang kantuk, maupun memang mereka pengen ngemil. Termasuk juga Hendra, namun hanya sebatas permen, tapi satu bungkus, penuh, kadang habis, bisa dihitung dari 45 menit pelajaran, dia bisa menghabiskan 1 bungkus permen dg ukuran sedang, dia, maniak dalam makanan manis seperti permen.
Tapi ada satu sosok berjalan perlahan, rambut panjang sedikit bergelombang, Dinda, dia cukup pintar, selalu masuk lima besar, namun hanya pringkat empat atau lima, karena peringkat satu sampai tiga telah ada penghuni tetapnya, yakni Hendra, Reza, dan Agresia.
"Ndra" Dinda menegur perlahan.
"Eh, Dinda, ada apa ?"
"Sore ada acara gak ?"
Sssssllrrppp....
Suara Rinto ngeces¹ ditengah obrolan mereka.
"Bletakkk,....Dasar kebo" kepala Rinto kena jitak.
"Apaan sih, ganggu mulu, orang lagi tidur juga" Rinto hanya memperbaiki posisi tidurnya.
"Makanya kalo tidur dikelas tuh bawa kanebo², biar iler gak kemana- mana"
Dinda yang sejak awal ingin bicara dengan Hendra tak banyak bereaksi dengan apa yang dilihatnya karena sebuah pemandangan yang biasa jika Rinto tidur di kelas, pernah suatu ketika dia sudah tetidur pulas karena pelajaran kosong hingga jam terakhir, Hendra sengaja tak membangunkannya, dan hasilnya dia ditinggal sendiri didalam kelas hingga sore hari pak Yono, tukang kebun sekaligus penjaga sekolah, datang dan mengecek semua kelas sebelum dikunci dan akhirnya menemukan Rinto yang tak bergerak karena pulasnya, awalnya pak Yono kaget, tak biasanya msh ada seseorang di dalm kelas sesore ini, setelah di dekati perlahan dan digerak-gerakkan badanya, akhirnya pak Yono sadar kalau itu hanya seorang siswa yang tiduradalah bangun, udah sore"
"Hehhh, sore ? Bukanya baru ganti pelajaran ya ?" Rinto sedikit membuka matanya,
"Ini sudah mau maghrib mas, sudah jam 5 lebih"
"Aaaaaaaa....mmph (menguap), pantesan dah sepi, ya sudah pak, terima kasih sudah membangunkan saya, pulang dulu pak, assalamu alaikum" Rinto salim ke pak Yono.
"Iya mas, wa alaikum salam"
dan setelahnya membangunkan Rinto menjadi tugas tambahan bagi pak Yono.
"Ehh sorry Dinda, tadi tanya apa " Hendra teringat kalau ada Dinda yang hendak bertanya.
" itu, nanti sore ada acara gak, di rumah sepi, ibu sama bapak kerumah saudara, ada acara nikahan, kamu mau nemenin sekaligus ngajarin aku bab logaritma gak"
"Ee, nemenin, ehmm gmna ya,"
" mau ya, tau sendiri kan tadi aku disuruh ngerjain soal di depan gak bisa, mau ya, mau ya"
"Yaaa, mau sih mau, soal ngajarin kayak gitu sih bisa, masalahnya aku.."
"Ndra..., yukk ahh, buruan pulang, udah sore, takut kehujanan lagi, habis pulang langsung ganti baju ya jangan lupa, kita langsung berangkat jam tiga pas, takut bukunya habis, ini launching pertama soalnya, kalau sampe soldout duluan, aku gak mau nunggu seminggu lagi, ehh Dinda, mau ikut kita gak beli buku nanti sore ?" Novi datang dan langsung menagih janji Hendra untuk menemaninya ke toko buku karena hari ini adalah peluncuran buku dari penulis kesukaan Novi.
"Hhehe, iya Nov, inget kok, ehmmm Dinda, maaf ya, ini sebabnya aku gak bisa, kamu tahu sendiri kan" Hendra melihat Dinda agak kecewa.
"Iya Ndra, gak papa, mungkin lain kali" Dinda menjawab dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Memangnya ada apa Ndra" Novi ingin tahu.
" ahh gak ada apa-apa, kepo deh, yukk ahh buruan, Dinda aku pulang dulu yaa, keburu sore, takut gak ada kendaraan lagi soalnya," Hendra segera menggantungkan ransel pada punggungnya
"Ya udah, duluan ya Dinda, yukk Ndra" sahut Novi.
"Daaa..," Hendra merentangkan kelima jari tangan kanannya pada Dinda,
" iyaaa" Dinda hanya memberi senyum pada mereka berdua , setelah keluar dr ruangan kelas, tak terlalu jauh, masih bisa terlihat oleh Dinda, mereka berdua bercengkrama, tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, hanya menduga kalau Novi bertanya apa yang telah dibicarakan dirinya dengan Hendra,
"Yahh, mungkin nanti" Dinda bergumam, berjalan menuju pintu kelas untuk menyusul teman-temanya yang telah lebih dulu keluar, menengok sekali lagi ke dalam, barangkali ada yang tertinggal, lalu kembali berjalan keluar, menyusuri lorong lalu menuju pintu utama sekolah. Disana sudah ada pak Yono, menjaga gerbang sekaligus mengingatkan barangkali ada yang berlarian ataupun menaiki sepeda, karena sepeda hanya boleh dinaiki diluar sekolah, didalam, sepeda harus dituntun.
"Mari pak" Dinda menyapa pak Yono.
"Iya dek, hati-hati" jawab pak Yono ramah.
Hampir semua anak menyapa pak Yono, dan pak Yono pun tak segan memberi senyum ramah pada mereka, kecuali satu orang.
Tap. Tap. Tap.... Suara langkah Hendra dan Novi saling bersautan melewati jalan menuju rumah mereka,
"Ada apa Ndra" Novi bertanya, karena melihat Hendra sedikit diam.
"Ohh, gak ada apa-apa, cuma seperti lupa sesuatu, tapi apa ya" jawab Hendra.
"Ada yang tertinggal dikelas ?"
"Ehhmmm, mungkin sudahlah, kalo memang penting nanti juga ingat sendiri, ohh iya nanti pas berangkat kita mampir rumah Rinto...., yakk RINTO......." Hendra sedikit berteriak.
"Gak usah pake teriak kali Ndra, iya iya nanti mampir"
" bukan itu, aku baru ingat"
" ingat apa, hal yang tadi kamu lupa"
"Iya, aku baru ingat, aku lupa membangunkan Rinto lagi".
"Terus gimana"
" udah lah biarin, nanti juga bangun sendiri"
" ohh, ya udahh deh"
.
.
.
.
.
"Kebo, iler tuh, bersihin napa" Hendra menunjuk pada bibir bawah Rinto yang terlihat jelas air liur mengalir perlahan.
"Ehmmm, biarin ahhh, bluk..." kepala Rinto menempel lagi di bangku.
Seisi kelas tak terlalu memperhatikan apa yang terjadi dibangku Hendra dan Rinto, semua sibuk merapikan buku dan alat-alat tulis yang mazih ada diatas meja mereka, laci meja yang penuh bungkus makanan ringan dan permen semua dibersihkan, dan hampir semua anak melakukanya, cukup banyak, menandakan pelajaran terakhir siang itu begitu membosankan, sudah menjadi kebiasaan mereka membawa cemilan, dari 28 anak yang ada, 12 diantara mereka sudah dipastikan membawa cemilan maupun permen, sebagai penghilang kantuk, maupun memang mereka pengen ngemil. Termasuk juga Hendra, namun hanya sebatas permen, tapi satu bungkus, penuh, kadang habis, bisa dihitung dari 45 menit pelajaran, dia bisa menghabiskan 1 bungkus permen dg ukuran sedang, dia, maniak dalam makanan manis seperti permen.
Tapi ada satu sosok berjalan perlahan, rambut panjang sedikit bergelombang, Dinda, dia cukup pintar, selalu masuk lima besar, namun hanya pringkat empat atau lima, karena peringkat satu sampai tiga telah ada penghuni tetapnya, yakni Hendra, Reza, dan Agresia.
"Ndra" Dinda menegur perlahan.
"Eh, Dinda, ada apa ?"
"Sore ada acara gak ?"
Sssssllrrppp....
Suara Rinto ngeces¹ ditengah obrolan mereka.
"Bletakkk,....Dasar kebo" kepala Rinto kena jitak.
"Apaan sih, ganggu mulu, orang lagi tidur juga" Rinto hanya memperbaiki posisi tidurnya.
"Makanya kalo tidur dikelas tuh bawa kanebo², biar iler gak kemana- mana"
Dinda yang sejak awal ingin bicara dengan Hendra tak banyak bereaksi dengan apa yang dilihatnya karena sebuah pemandangan yang biasa jika Rinto tidur di kelas, pernah suatu ketika dia sudah tetidur pulas karena pelajaran kosong hingga jam terakhir, Hendra sengaja tak membangunkannya, dan hasilnya dia ditinggal sendiri didalam kelas hingga sore hari pak Yono, tukang kebun sekaligus penjaga sekolah, datang dan mengecek semua kelas sebelum dikunci dan akhirnya menemukan Rinto yang tak bergerak karena pulasnya, awalnya pak Yono kaget, tak biasanya msh ada seseorang di dalm kelas sesore ini, setelah di dekati perlahan dan digerak-gerakkan badanya, akhirnya pak Yono sadar kalau itu hanya seorang siswa yang tiduradalah bangun, udah sore"
"Hehhh, sore ? Bukanya baru ganti pelajaran ya ?" Rinto sedikit membuka matanya,
"Ini sudah mau maghrib mas, sudah jam 5 lebih"
"Aaaaaaaa....mmph (menguap), pantesan dah sepi, ya sudah pak, terima kasih sudah membangunkan saya, pulang dulu pak, assalamu alaikum" Rinto salim ke pak Yono.
"Iya mas, wa alaikum salam"
dan setelahnya membangunkan Rinto menjadi tugas tambahan bagi pak Yono.
"Ehh sorry Dinda, tadi tanya apa " Hendra teringat kalau ada Dinda yang hendak bertanya.
" itu, nanti sore ada acara gak, di rumah sepi, ibu sama bapak kerumah saudara, ada acara nikahan, kamu mau nemenin sekaligus ngajarin aku bab logaritma gak"
"Ee, nemenin, ehmm gmna ya,"
" mau ya, tau sendiri kan tadi aku disuruh ngerjain soal di depan gak bisa, mau ya, mau ya"
"Yaaa, mau sih mau, soal ngajarin kayak gitu sih bisa, masalahnya aku.."
"Ndra..., yukk ahh, buruan pulang, udah sore, takut kehujanan lagi, habis pulang langsung ganti baju ya jangan lupa, kita langsung berangkat jam tiga pas, takut bukunya habis, ini launching pertama soalnya, kalau sampe soldout duluan, aku gak mau nunggu seminggu lagi, ehh Dinda, mau ikut kita gak beli buku nanti sore ?" Novi datang dan langsung menagih janji Hendra untuk menemaninya ke toko buku karena hari ini adalah peluncuran buku dari penulis kesukaan Novi.
"Hhehe, iya Nov, inget kok, ehmmm Dinda, maaf ya, ini sebabnya aku gak bisa, kamu tahu sendiri kan" Hendra melihat Dinda agak kecewa.
"Iya Ndra, gak papa, mungkin lain kali" Dinda menjawab dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Memangnya ada apa Ndra" Novi ingin tahu.
" ahh gak ada apa-apa, kepo deh, yukk ahh buruan, Dinda aku pulang dulu yaa, keburu sore, takut gak ada kendaraan lagi soalnya," Hendra segera menggantungkan ransel pada punggungnya
"Ya udah, duluan ya Dinda, yukk Ndra" sahut Novi.
"Daaa..," Hendra merentangkan kelima jari tangan kanannya pada Dinda,
" iyaaa" Dinda hanya memberi senyum pada mereka berdua , setelah keluar dr ruangan kelas, tak terlalu jauh, masih bisa terlihat oleh Dinda, mereka berdua bercengkrama, tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, hanya menduga kalau Novi bertanya apa yang telah dibicarakan dirinya dengan Hendra,
"Yahh, mungkin nanti" Dinda bergumam, berjalan menuju pintu kelas untuk menyusul teman-temanya yang telah lebih dulu keluar, menengok sekali lagi ke dalam, barangkali ada yang tertinggal, lalu kembali berjalan keluar, menyusuri lorong lalu menuju pintu utama sekolah. Disana sudah ada pak Yono, menjaga gerbang sekaligus mengingatkan barangkali ada yang berlarian ataupun menaiki sepeda, karena sepeda hanya boleh dinaiki diluar sekolah, didalam, sepeda harus dituntun.
"Mari pak" Dinda menyapa pak Yono.
"Iya dek, hati-hati" jawab pak Yono ramah.
Hampir semua anak menyapa pak Yono, dan pak Yono pun tak segan memberi senyum ramah pada mereka, kecuali satu orang.
Tap. Tap. Tap.... Suara langkah Hendra dan Novi saling bersautan melewati jalan menuju rumah mereka,
"Ada apa Ndra" Novi bertanya, karena melihat Hendra sedikit diam.
"Ohh, gak ada apa-apa, cuma seperti lupa sesuatu, tapi apa ya" jawab Hendra.
"Ada yang tertinggal dikelas ?"
"Ehhmmm, mungkin sudahlah, kalo memang penting nanti juga ingat sendiri, ohh iya nanti pas berangkat kita mampir rumah Rinto...., yakk RINTO......." Hendra sedikit berteriak.
"Gak usah pake teriak kali Ndra, iya iya nanti mampir"
" bukan itu, aku baru ingat"
" ingat apa, hal yang tadi kamu lupa"
"Iya, aku baru ingat, aku lupa membangunkan Rinto lagi".
"Terus gimana"
" udah lah biarin, nanti juga bangun sendiri"
" ohh, ya udahh deh"
.
.
.
.
.
Di kelas.
"Hmmmmph" pelan Rinto membuka mata
"Hoaaaamms, heh dah sepi, hemmb, Hendra lupa lagi, dasar" Rinto mengumpat dengan wajah malasnya, yang untuk sekian kalinya Ia harus pulang larut, lagi.
"Hmmmmph" pelan Rinto membuka mata
"Hoaaaamms, heh dah sepi, hemmb, Hendra lupa lagi, dasar" Rinto mengumpat dengan wajah malasnya, yang untuk sekian kalinya Ia harus pulang larut, lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar