Tiga minggu berlalu sejak peristiwa Penampakan itu, Rinto sudah sedikit bisa bertingkah seprti biasanya, sudah berani pulang sore karena ketiduran dikelas, sudah berani berjalan seorang diri dilorong gedung sekolah, sebelumnya, ketika sosok itu pertama terlihat, Rinto tak pernah lagi tidur dikelas, karena takut sosok itu muncul di depanya saat dia membuka mata, berangkat pun selalu tepat waktu, tak pernah telat lagi. Lalu suatu hari, karena sudah merasa dihantui oleh sosok tersebut, Rinto mencoba bertanya pada seorang paranormal, dari situ Ia tahu bahwa sosok tersebut tak mengganggu meski terlihat sering menampakkan diri, malah sosok tersebut mencoba untuk memberi tahu bahwa orang yang melihatnya akan mendapat musibah sehingga harus lebih berhati2. Memang semenjak Rinto melihatnya, Ia kerap mendapat naas, seperti tiba2 terjatuh saat berjalan, namun itu seprti pengalihan dari sial yang lebih buruk, karena tak jauh dari tempat Rinto terjatuh, ada anak yang tertabrak sepeda motor ketika berjalan, sama seperti dirinya, melihat hal tersebut Rinto masih mencoba berfikir apa yang sebenarnya terjadi, barulah ketika bertemu paranormal tersebut Ia memahaminya, namun setelah itu sosok tersebut tak terlihat lagi, di jendela , di lorong, di pojok kelas, dan tempat lain yang sering Rinto jumpai, tak ada lagi sosok yang pernah membuat Rinto ngompol itu, dan akhirnya kembalilah saat seperti sebelumnya, saat sebelum sosok itu muncul. Saat pulang tiba, saat Rinto menoleh ke arah gedung sekolah, tak ada lagi sosok yang mengintip dari balik jendela, Rinto sadar, semua telah kembali seperti semula, namun satu hal yang tak Rinto sadari, disana, diatas gedung sekolah,selalu ada yang melihatnya melangkah pulang, selalu ada yang memperhatikannya.Ya, sosok itu, tanpa Rinto sadari, masih mengawasi dirinya.
"Rr..Rin...too..." ucap sosok itu terbata...
................
Senja seolah tahu, ada orang yang hendak keluar rumah sepulang sekolah nanti, yang biasa selalu basah oleh hujan, kala itu cerah, mega kuning terlihat indah di langit sebelah barat, mengiringi langkah kaki yang selalu berusaha berjalan beriringan, karena sang lelaki yang berjalan terlalu cepat, atau si wanita yang terlalu lambat,entah, tapi ketika mereka berjalan sejajar, mereka seakan mengerti, itulah yang sebenarnya mreka inginkan sejak langkah pertama ketika meninggalkan sekolah tdi. Hendra dan Novi, mereka tak pernah melewatkan jadwal tuk pulang berjalan kaki bersama setiap harinya, melewati jalan desa, lalu jembatan, pinggir sungai yang hijau karena rerumputan, atau kadang gang2 kecil ketika mereka butuh jalan pintas.
"Cuacanya cerah,Ndra"
"Aku tahu"
" maksudku, mendukung banget, kan nanti mlam mau nonton"
" yaaa, semoga nanti malam tetap secerah ini"
" yupp, eh kamu bneran bisa ikut kan, jangan bilang mau main futsal lagi, udah berapa kali gagal nonton gara2 kamunya main futsal terus"
" kan kamu bisa nonton sendiri Nov"
"Orang maunya nonton berdua, sendiri gak akan seru Ndra..."
" ya makanya jangan film romantis, jadi kalo nonton sendiri gak masalah"
"Kan aku sukanya yang romantis Ndra, gak mau yang lain"
"Kalo gtu, kenapa gak ngajak yang lain aja, Melisa, atau siapa, kan bisa"
",temen2 ku , mereka nontonnya udah sma cowoknya masing2, masa aku nonton tp jadi obat nyamuk buat mereka, gak mau lah Ndra"
"Yaaaa, apa boleh buat, sesekali ini aja, lagian ,udah lama juga gak ke bioskop, kali aja ada yang bagus"
"Nah , gitu kan enak dengernya"
"Aku tahu"
" maksudku, mendukung banget, kan nanti mlam mau nonton"
" yaaa, semoga nanti malam tetap secerah ini"
" yupp, eh kamu bneran bisa ikut kan, jangan bilang mau main futsal lagi, udah berapa kali gagal nonton gara2 kamunya main futsal terus"
" kan kamu bisa nonton sendiri Nov"
"Orang maunya nonton berdua, sendiri gak akan seru Ndra..."
" ya makanya jangan film romantis, jadi kalo nonton sendiri gak masalah"
"Kan aku sukanya yang romantis Ndra, gak mau yang lain"
"Kalo gtu, kenapa gak ngajak yang lain aja, Melisa, atau siapa, kan bisa"
",temen2 ku , mereka nontonnya udah sma cowoknya masing2, masa aku nonton tp jadi obat nyamuk buat mereka, gak mau lah Ndra"
"Yaaaa, apa boleh buat, sesekali ini aja, lagian ,udah lama juga gak ke bioskop, kali aja ada yang bagus"
"Nah , gitu kan enak dengernya"
Wuuussshhhh.......
Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan sapu tangan Novi cukup jauh.
Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan sapu tangan Novi cukup jauh.
"Yahh, terbang" Novi melihat dengan pasrah..
"Hadeeeeh, bikin repot aja".
Sruuuut...
Hendra turun kebawah, tanpa menunggu aba2, seakan tahu apa yang harus dilakukan.
mereka sedang berada di jalan sekitar sungai, dengan bagian pinggir yang miring yang permukaanya ditumbuhi rumput, dan bagian bawah yang cukup luas, cukup untuk anak2 bermain bola, dan sapu tangan Novi berada disana.
"Hadeeeeh, bikin repot aja".
Sruuuut...
Hendra turun kebawah, tanpa menunggu aba2, seakan tahu apa yang harus dilakukan.
mereka sedang berada di jalan sekitar sungai, dengan bagian pinggir yang miring yang permukaanya ditumbuhi rumput, dan bagian bawah yang cukup luas, cukup untuk anak2 bermain bola, dan sapu tangan Novi berada disana.
"Kau mau kemana, Ndra" Novi berteriak.
"Kemana lagi kalau bukan kebawah" Hendra menjawab sambil berjalan menuju tempat dimana sapu tangan novi terjatuh. kemudian, Tak butuh waktu lama, Hendra telah kembali di tempat Novi berdiri menunggu dirinya,
mengulurkanya pada Novi..
"Kemana lagi kalau bukan kebawah" Hendra menjawab sambil berjalan menuju tempat dimana sapu tangan novi terjatuh. kemudian, Tak butuh waktu lama, Hendra telah kembali di tempat Novi berdiri menunggu dirinya,
mengulurkanya pada Novi..
"Kau mengambilkanya, lagi " Novi menerimanya
" aku hanya memungut sesuatu yang terjatuh" mengusap keringat di dahinya
" tapi kenapa waktu itu kau tak langsung mengambilnya, seperti yang baru kau lakukan" tanya Novi agak berteriak.
"Waktu itu hujan Nov, kita tak bisa kembali hanya untuk mengambil hal semacam itu, kau tahu sendiri, waktu itu sedang ujian, dan kita harus memakai seragam yang sama esok harinya"
" iyaa, aku ngerti, maksudku, kenapa kau mengambilkanya untuk ku waktu itu, aku tahu waktu itu hujan belum benar2 reda, ketika beberapa saat kita telah sampai di rumah masing2, lalu tiba2 kau mengetuk pintu dan memberikannya padaku"
" aku pulang kerumah waktu itu, lalu ganti baju, baru aku pergi mengambil sapu tangan ini, aku tahu dimana jatuhnya, jadi tak terlalu sulit mencarinya,karena aku tahu, betapa kau menyayangi ini, sapu tangan ini adalah pemberian ibumu sebelum dia pergi, dan ini begitu berharga bagimu, ya kan ?"
"Bagaimana kau tahu " Novi agak kaget.
"Kau kan pernah menceritakannya padaku Nov " memandang Novi seriuz
"Iya kah ? Aku lupa" Novi coba mngingat sambil menggaruk kepalanya yg tak gatal.
" sudahlah, masukan kedalam tas, kau tak mau angin meniupnya lagi kan" ucap Hendra sambil berjalan kembali.
"Iyaaaaa" jawab Novi sambil berlari mengejar Hendra.
" aku hanya memungut sesuatu yang terjatuh" mengusap keringat di dahinya
" tapi kenapa waktu itu kau tak langsung mengambilnya, seperti yang baru kau lakukan" tanya Novi agak berteriak.
"Waktu itu hujan Nov, kita tak bisa kembali hanya untuk mengambil hal semacam itu, kau tahu sendiri, waktu itu sedang ujian, dan kita harus memakai seragam yang sama esok harinya"
" iyaa, aku ngerti, maksudku, kenapa kau mengambilkanya untuk ku waktu itu, aku tahu waktu itu hujan belum benar2 reda, ketika beberapa saat kita telah sampai di rumah masing2, lalu tiba2 kau mengetuk pintu dan memberikannya padaku"
" aku pulang kerumah waktu itu, lalu ganti baju, baru aku pergi mengambil sapu tangan ini, aku tahu dimana jatuhnya, jadi tak terlalu sulit mencarinya,karena aku tahu, betapa kau menyayangi ini, sapu tangan ini adalah pemberian ibumu sebelum dia pergi, dan ini begitu berharga bagimu, ya kan ?"
"Bagaimana kau tahu " Novi agak kaget.
"Kau kan pernah menceritakannya padaku Nov " memandang Novi seriuz
"Iya kah ? Aku lupa" Novi coba mngingat sambil menggaruk kepalanya yg tak gatal.
" sudahlah, masukan kedalam tas, kau tak mau angin meniupnya lagi kan" ucap Hendra sambil berjalan kembali.
"Iyaaaaa" jawab Novi sambil berlari mengejar Hendra.
Keduanya berjalan kembali, angin tetap bertiup, namun kini lebih tenang, membuat dua orang yang sedang berjalan itu semakin menikmati perjalanan mereka, meski tak banyak kata, sepertinya mereka telah semakin mengerti akan arti setiap langkah yang semakin lama semakin sejajar, dan semakin dekat.
NB : Perhatian tak harus diucapkan, cukup dilakukan, sederhana pun, kalau itu sesuatu yang dia anggap indah, akan jadi sebuah rasa yang berharga...
