Kamis, 15 Juni 2017

Nanana (Nikmati saat Bersamanya) chapter 6

Tiga minggu berlalu sejak peristiwa Penampakan itu, Rinto sudah sedikit bisa bertingkah seprti biasanya, sudah berani pulang sore karena ketiduran dikelas, sudah berani berjalan seorang diri dilorong gedung sekolah, sebelumnya, ketika sosok itu pertama terlihat, Rinto tak pernah lagi tidur dikelas, karena takut sosok itu muncul di depanya saat dia membuka mata, berangkat pun selalu tepat waktu, tak pernah telat lagi. Lalu suatu hari, karena sudah merasa dihantui oleh sosok tersebut, Rinto mencoba bertanya pada seorang paranormal, dari situ Ia tahu bahwa sosok tersebut tak mengganggu meski terlihat sering menampakkan diri, malah sosok tersebut mencoba untuk memberi tahu bahwa orang yang melihatnya akan mendapat musibah sehingga harus lebih berhati2. Memang semenjak Rinto melihatnya, Ia kerap mendapat naas, seperti tiba2 terjatuh saat berjalan, namun itu seprti pengalihan dari sial yang lebih buruk, karena tak jauh dari tempat Rinto terjatuh, ada anak yang tertabrak sepeda motor ketika berjalan, sama seperti dirinya, melihat hal tersebut Rinto masih mencoba berfikir apa yang sebenarnya terjadi, barulah ketika bertemu paranormal tersebut Ia memahaminya, namun setelah itu sosok tersebut tak terlihat lagi, di jendela , di lorong, di pojok kelas, dan tempat lain yang sering Rinto jumpai, tak ada lagi sosok yang pernah membuat Rinto ngompol itu, dan akhirnya kembalilah saat seperti sebelumnya, saat sebelum sosok itu muncul. Saat pulang tiba, saat Rinto menoleh ke arah gedung sekolah, tak ada lagi sosok yang mengintip dari balik jendela, Rinto sadar, semua telah kembali seperti semula, namun satu hal yang tak Rinto sadari, disana, diatas gedung sekolah,selalu ada yang melihatnya melangkah pulang, selalu ada yang memperhatikannya.Ya, sosok itu, tanpa Rinto sadari, masih mengawasi dirinya.
"Rr..Rin...too..." ucap sosok itu terbata...
................
Senja seolah tahu, ada orang yang hendak keluar rumah sepulang sekolah nanti, yang biasa selalu basah oleh hujan, kala itu cerah, mega kuning terlihat indah di langit sebelah barat, mengiringi langkah kaki yang selalu berusaha berjalan beriringan, karena sang lelaki yang berjalan terlalu cepat, atau si wanita yang terlalu lambat,entah, tapi ketika mereka berjalan sejajar, mereka seakan mengerti, itulah yang sebenarnya mreka inginkan sejak langkah pertama ketika meninggalkan sekolah tdi. Hendra dan Novi, mereka tak pernah melewatkan jadwal tuk pulang berjalan kaki bersama setiap harinya, melewati jalan desa, lalu jembatan, pinggir sungai yang hijau karena rerumputan, atau kadang gang2 kecil ketika mereka butuh jalan pintas.
"Cuacanya cerah,Ndra"
"Aku tahu"
" maksudku, mendukung banget, kan nanti mlam mau nonton"
" yaaa, semoga nanti malam tetap secerah ini"
" yupp, eh kamu bneran bisa ikut kan, jangan bilang mau main futsal lagi, udah berapa kali gagal nonton gara2 kamunya main futsal terus"
" kan kamu bisa nonton sendiri Nov"
"Orang maunya nonton berdua, sendiri gak akan seru Ndra..."
" ya makanya jangan film romantis, jadi kalo nonton sendiri gak masalah"
"Kan aku sukanya yang romantis Ndra, gak mau yang lain"
"Kalo gtu, kenapa gak ngajak yang lain aja, Melisa, atau siapa, kan bisa"
",temen2 ku , mereka nontonnya udah sma cowoknya masing2, masa aku nonton tp jadi obat nyamuk buat mereka, gak mau lah Ndra"
"Yaaaa, apa boleh buat, sesekali ini aja, lagian ,udah lama juga gak ke bioskop, kali aja ada yang bagus"
"Nah , gitu kan enak dengernya"
Wuuussshhhh.......
Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan sapu tangan Novi cukup jauh.
"Yahh, terbang" Novi melihat dengan pasrah..
"Hadeeeeh, bikin repot aja".
Sruuuut...
Hendra turun kebawah, tanpa menunggu aba2, seakan tahu apa yang harus dilakukan.
mereka sedang berada di jalan sekitar sungai, dengan bagian pinggir yang miring yang permukaanya ditumbuhi rumput, dan bagian bawah yang cukup luas, cukup untuk anak2 bermain bola, dan sapu tangan Novi berada disana.
"Kau mau kemana, Ndra" Novi berteriak.
"Kemana lagi kalau bukan kebawah" Hendra menjawab sambil berjalan menuju tempat dimana sapu tangan novi terjatuh. kemudian, Tak butuh waktu lama, Hendra telah kembali di tempat Novi berdiri menunggu dirinya,
mengulurkanya pada Novi..
"Kau mengambilkanya, lagi " Novi menerimanya
" aku hanya memungut sesuatu yang terjatuh" mengusap keringat di dahinya
" tapi kenapa waktu itu kau tak langsung mengambilnya, seperti yang baru kau lakukan" tanya Novi agak berteriak.
"Waktu itu hujan Nov, kita tak bisa kembali hanya untuk mengambil hal semacam itu, kau tahu sendiri, waktu itu sedang ujian, dan kita harus memakai seragam yang sama esok harinya"
" iyaa, aku ngerti, maksudku, kenapa kau mengambilkanya untuk ku waktu itu, aku tahu waktu itu hujan belum benar2 reda, ketika beberapa saat kita telah sampai di rumah masing2, lalu tiba2 kau mengetuk pintu dan memberikannya padaku"
" aku pulang kerumah waktu itu, lalu ganti baju, baru aku pergi mengambil sapu tangan ini, aku tahu dimana jatuhnya, jadi tak terlalu sulit mencarinya,karena aku tahu, betapa kau menyayangi ini, sapu tangan ini adalah pemberian ibumu sebelum dia pergi, dan ini begitu berharga bagimu, ya kan ?"
"Bagaimana kau tahu " Novi agak kaget.
"Kau kan pernah menceritakannya padaku Nov " memandang Novi seriuz
"Iya kah ? Aku lupa" Novi coba mngingat sambil menggaruk kepalanya yg tak gatal.
" sudahlah, masukan kedalam tas, kau tak mau angin meniupnya lagi kan" ucap Hendra sambil berjalan kembali.
"Iyaaaaa" jawab Novi sambil berlari mengejar Hendra.
Keduanya berjalan kembali, angin tetap bertiup, namun kini lebih tenang, membuat dua orang yang sedang berjalan itu semakin menikmati perjalanan mereka, meski tak banyak kata, sepertinya mereka telah semakin mengerti akan arti setiap langkah yang semakin lama semakin sejajar, dan semakin dekat.
NB : Perhatian tak harus diucapkan, cukup dilakukan, sederhana pun, kalau itu sesuatu yang dia anggap indah, akan jadi sebuah rasa yang berharga...

Nanana (Nikmati saat Bersamanya) chapter 5




Jam istirahat...
"Hahahahahahaaaa"
Gelak tawa pecah dalam kelas, semua menertawakan satu orang bersama sma, Rinto, karena telah terjadi hal yang ckup memalukan tadi pagi, sebelum pelajaran dimulai.
" makanya, apa2 tu dilihat dlu, pastikan dulu, itu bneran setan apa bukan, orang pake make up aja ditakutin, hahahaha" celetuk salah satu anak.
"Ini lagi ketawa breng, ngetawain apa sih" tanya seorang murid dari kelas XI yang sedang lewat depan kelas XIIA.
" itu, ada yang ngompol tadi pagi, gara2 ngeliat setan" jawab salah seorang murid.
" setan ?"
"Iya, setan,  cuma itu setan bohongan, kan anak ekskul drama sedang ada pentas, nah ada yang dapat peran jadi setan, udah makeup penuh, gak sengaja waktu lewat lorong pintu utama, Rinto baru masuk, jadi pas banget, hahaaa"
",hahaaaaaaaa, pantesan pada ketaw semua"
"Parah sih, orang sampe keringat dingin, teriak2 juga"
" hehee, ya udah mas, permisi, trima kasih udah dikasih tahu"
" iya, sama2"
Murid itu pun pergi meninggalkan kelas yang masih diisi tawa penghuninya, Rinto hanya diam, menutup mukanya, tertunduk malu, dia masih merasa heran, kenapa dia bisa sampai kencing di celana hanya karena melihat hal semacam itu, beruntung, pak Yono punya celana lebih untuk dipinjamkan pada Rinto yang basah oleh air kencingnya sendiri, meski agak terlalu besar, tapi cukup untuk menutup betis serta rasa malunya.
" Ndra, ngomong, belain temenmu ini," Rinto menegur Hendra yang sedari tadi tak banyak ekspresi, disaat yng lain sbuk tertawa.
" untuk apa, memangnya nyatanya seperti itu kan, sudahlah, terima saja, paling2 juga cuma hari ini, betah2 in aja dulu" ledek Hendra.
" yahhh, malah ngeledek, bukanya dibntuin malah diledekin"
"Ya udah, aku ngmg ke anak2, * berdiri *  temen2...." Hendra berteriak, semua anak melihatnya,
" kalian tak seharusnya menertawakan Rinto, dia kan tmn kita, kalian juga pasti pernah ngompol kan" . Hendra mengatakanya dg ckup lantang, yang lain dg khidmat mendengarkan, Rinto terharu dlam hati,  sdikit bhagia karna msh ada yg peduli padanya.
" lihatlah Rinto, dia hanya korban keadaan, tapi yang pasti.." Hendra berhenti sejenak, lalu teriak..
" besok2 harus  ada yang bawa popok ke sekolah" Hendra akhirnya tertawa, diikuti seluruh penghuni kelas. Siswa- siswa yang melewati kelas XIIA hanya bisa terheran, tak biasannya kelas XIIA seramai ini, namun ada satu anak yang berhenti, melihat dari jendela kelas, tersenyum, ditengah keramaian tawa tak ada yang menyadari, kecuali satu orang, Rinto, dia seorang yang melihatnya, sosok itu, ya, sosok yg kmarin Rinto lihat kembali muncul, yang lain tak menyadari, Rinto menahan takut, keringat kembali keluar, Rinto hanya menunduk, takut,
" haduuuuuuuuh".
Rinto menggigil, air hangat keluar lagi dari selangkangannya, dia ngompol lagi.

Nanana (Nikmati saat Bersamanya) chapter 4

Rinto terbangun, dengan malas dia mencoba berdiri, meregangkan badannya dengan menarik tangan nya keatas,
"Ee, lumayan capek juga tidur seharian" ujar Rinto lalu sambil mengemasi barangnya.
"eh tumben pak Yono gak dtang , apa aku yang kurang sore tidurnya" tas siap ditaruh dipundak, tiba-tiba..
Ctaak...
Sapu kelas terjatuh, disampingnya ada pengki dan tempat sampah, namun tak bergeming, Rinto menoleh, memperhatikan sekitar, ingin tahu apa yang membuat sapu itu terjatuh begitu saja, sambil membenarkan tas di pundaknya,di berjalan ke belakang kelas, mengambil sapu itu dan mengembalikan ke tempat semula,
Takk, takk, takk...
Namun diluar tiba2 terdengar suara benda yang dipukulkan ke kaca jendela, segera Rinto menoleh ke arah jendela, namun tak ada apa2,
"Glekkk...." Rinto menelan ludah,
"Ehh, gak ada apa2 ternyata ,hehe hehe hehe," dia tertawa sendiri untuk menutupi rasa takutnya,
"Pulang ahh, terus langsung mandi dan tidur lagii, yeeeey" dia makin bicara tak jelas sambil beranjak pergi menuju pintu kelas, lalu,
Glodakkkkkk,........
Kursi terjatuh dengan sendirinya.....
"Weddooooosss" Rinto teriak, lalu lari sekencang-kencangnya,
"Ini malem jumat, aku baru ingat, harusnya aku tak sesore ini"  dengan ngos2 an Ia terus berlari, melewati lorong, lalu menuruni tangga, dan keluar dari gedung dengan keadaan keringat dingin karena takut, Rinto masih ngos2an, sambil memegangi lutut, mencoba mengatur nafas,
"Hahh, hahh, hahh, huuhh, akhirnya, udah diluar, yess" Rinto sdikit merasa lega,  lalu dari belakang..
"Kenapa mas" Pak Yono datng tiba2.
"Aaaaaa,ehhh pak Yono, gak papa kok pak, cuma latihan lari aja"
Rinto sedikit terkejut dengan kehadiran pak Yono.
" biasany nunggu bapak bangunkan dulu, kok tumben bisa bangun sendiri"
" iya pak sekali2 bangun sendiri, biar gK ngerepotin, yasudah pak, saya langsung pulang aja, mari" ujar Rinto sambil langsung berlalu pergi, di gerbang depan, dia berhenti sejenak, melihat pak Yono yang masuk kedlam gedung hendak mengunci ruangan, lalu pandanganny sedikit ditarik keatas, mengamati kaca jendela ruangan yang berjajar, termasuk kelasnya, dan tanpa diduga Rinto melihat sesuatu yang agak janggal, jendela kelazny ada yang terbuka, dia sedikit heran, karena seingatnya semua jendela sudah terkunci, lalu matanya sedikit dipicingkan, melihat sesosok perempuan perlahan mendekati jendela, belum begitu jelas, karena yang terlihat hanya tubuh bagian kiri saja, yang terlihat hanya rambut panjang terurai dengan baju putih, diamati lebih tajam, lalu Rinto tersentak ketika sosok itu telah sampai pada jendela yang terbuka, terlihat lengan kanannya berlumur cairan berwarna merah, mungkin darah,sangat bebeda dengan lengan kirinya yang bersih, ditambah lagi terlihat seperti sebuah lubang berada di dada sebelah kiri, terlihat pula cairan yang berwarna sma seperti yg ad di lenganya, keluar merembes dr lubang tersebut, wajahnya juga tak jauh berbeda, cairan berwarna merah itu juga mengalir dari kedua matanya, merembes turun ke pelipis, Rinto coba mengernyitkan dahi, ingin memastikan apa yang dilihatnya itu sebenrny siapa,
"Hati2 pulangnya mas" pak Yono berteriak dari ruangan sebelah, sambil menutup sebuah jendela yang masih terbuka.
" ohh, iya pak" teriak Rinto menjawab pak Yono, lalu pandangnya kembali pada ruangan kelasnya, hilang, sosok itu telah lenyap.
"Heemmmb" Rinto menarik nafas, pandanganya lalu dialihkan kejalan,
"Nananana, aku tak lihat apa2...." Rinto bersenandung tak jelas, untuk menutupi kebingungannya yang cenderung sperti rasa takut,
Guk guk guk guk..
"Anjiiiiiiiiiiiiingggggg" Rinto brteriak berlari sejadi2 nya, dia kaget mendengar gonggongan yang tiba2 ada itu. Rinto tak tahu, itu hanya suara anjing yang diajak jlan2 oleh pemiliknya.

Nanana (Nikmati saat Bersamanya) chapter 3

Teng.. Teng.. Teng..
Bel sekolah berbunyi tiga kali, pertanda pelajaran telah berakhir. Pak Kardi, kepala sekolah berumur paruh baya, stelan kemeja putih berdasi dengan celana hitam, dengan rambut yang sedikit memutih di blakang atas bagian kepalanya, paling sering memukul lonceng besar yang ada di depan kantor tersebut, tak ada petugas khusus, tapi yang paling sering adalah beliau.
"Hoaammz"  Rinto menguap.
"Kebo, iler tuh, bersihin napa" Hendra menunjuk pada bibir bawah Rinto yang terlihat jelas air liur mengalir perlahan.
"Ehmmm, biarin ahhh, bluk..." kepala Rinto menempel lagi di bangku.
Seisi kelas tak terlalu memperhatikan apa yang terjadi dibangku Hendra dan Rinto, semua sibuk  merapikan buku dan alat-alat tulis yang mazih ada diatas meja mereka, laci meja yang penuh bungkus makanan ringan dan permen semua dibersihkan, dan hampir semua anak melakukanya, cukup banyak, menandakan pelajaran terakhir siang itu begitu membosankan, sudah menjadi kebiasaan mereka membawa cemilan, dari 28 anak yang ada, 12 diantara mereka sudah dipastikan membawa cemilan maupun permen, sebagai penghilang kantuk, maupun memang mereka pengen ngemil. Termasuk juga Hendra, namun hanya sebatas permen, tapi satu bungkus, penuh, kadang habis, bisa dihitung dari 45 menit pelajaran, dia bisa menghabiskan 1 bungkus permen dg ukuran sedang, dia,  maniak dalam makanan manis seperti permen.
Tapi ada satu sosok berjalan perlahan, rambut panjang sedikit bergelombang, Dinda, dia cukup pintar, selalu masuk lima besar, namun hanya pringkat empat atau lima, karena peringkat satu sampai tiga telah ada penghuni tetapnya, yakni Hendra, Reza, dan Agresia.
"Ndra" Dinda menegur perlahan.
"Eh, Dinda, ada apa ?"
"Sore ada acara gak ?"
Sssssllrrppp....
Suara Rinto ngeces¹ ditengah obrolan mereka.
"Bletakkk,....Dasar kebo" kepala Rinto kena jitak.
"Apaan sih, ganggu mulu, orang lagi tidur juga" Rinto hanya memperbaiki posisi tidurnya.
"Makanya kalo tidur dikelas tuh bawa kanebo², biar iler gak kemana- mana"
Dinda yang sejak awal ingin bicara dengan Hendra tak banyak bereaksi dengan apa yang dilihatnya karena sebuah pemandangan yang biasa jika Rinto tidur di kelas, pernah suatu ketika dia sudah tetidur pulas karena pelajaran kosong hingga jam terakhir, Hendra sengaja tak membangunkannya, dan hasilnya dia ditinggal sendiri didalam kelas hingga sore hari pak Yono, tukang kebun sekaligus penjaga sekolah, datang dan mengecek semua kelas sebelum dikunci dan akhirnya menemukan Rinto yang tak bergerak karena pulasnya, awalnya pak Yono kaget, tak biasanya msh ada seseorang di dalm kelas sesore ini, setelah di dekati perlahan dan digerak-gerakkan badanya, akhirnya pak Yono sadar kalau itu hanya seorang siswa yang tiduradalah bangun, udah sore"
"Hehhh, sore ? Bukanya baru ganti pelajaran ya ?" Rinto sedikit membuka matanya,
"Ini sudah mau maghrib mas, sudah jam 5 lebih"
"Aaaaaaaa....mmph (menguap), pantesan dah sepi, ya sudah pak, terima kasih sudah membangunkan saya, pulang dulu pak, assalamu alaikum" Rinto salim ke pak Yono.
"Iya mas, wa alaikum salam"
dan setelahnya membangunkan Rinto menjadi tugas tambahan bagi pak Yono.
"Ehh sorry Dinda, tadi tanya apa " Hendra teringat kalau ada Dinda yang hendak bertanya.
" itu, nanti sore ada acara gak, di rumah sepi, ibu sama bapak kerumah saudara, ada acara nikahan, kamu mau nemenin sekaligus ngajarin aku bab logaritma gak"
"Ee, nemenin, ehmm gmna ya,"
" mau ya, tau sendiri kan tadi aku disuruh ngerjain soal di depan gak bisa, mau ya, mau ya"
"Yaaa, mau sih mau, soal ngajarin kayak gitu sih bisa, masalahnya aku.."
"Ndra..., yukk ahh, buruan pulang, udah sore, takut kehujanan lagi, habis pulang langsung ganti baju ya jangan lupa, kita langsung berangkat jam tiga pas, takut bukunya habis, ini launching pertama soalnya, kalau sampe soldout duluan, aku gak mau nunggu seminggu lagi, ehh Dinda, mau ikut kita gak beli buku nanti sore ?" Novi datang dan langsung menagih janji Hendra untuk menemaninya ke toko buku karena hari ini adalah peluncuran buku dari penulis kesukaan Novi.
"Hhehe, iya Nov, inget kok, ehmmm Dinda, maaf ya, ini sebabnya aku gak bisa, kamu tahu sendiri kan" Hendra melihat Dinda agak kecewa.
"Iya Ndra, gak papa, mungkin lain kali" Dinda menjawab dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Memangnya ada apa Ndra" Novi ingin tahu.
" ahh gak ada apa-apa, kepo deh, yukk ahh buruan, Dinda aku pulang dulu yaa, keburu sore, takut gak ada kendaraan lagi soalnya,"  Hendra segera menggantungkan ransel pada punggungnya
"Ya udah, duluan ya Dinda, yukk Ndra" sahut Novi.
"Daaa..," Hendra merentangkan kelima jari tangan kanannya pada Dinda,
" iyaaa" Dinda hanya memberi senyum pada mereka berdua , setelah  keluar dr ruangan kelas, tak terlalu  jauh, masih bisa terlihat oleh Dinda, mereka berdua bercengkrama, tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, hanya menduga kalau Novi bertanya apa yang telah dibicarakan dirinya dengan Hendra,
"Yahh, mungkin nanti" Dinda bergumam, berjalan menuju pintu kelas untuk menyusul teman-temanya yang telah lebih dulu keluar, menengok sekali lagi ke dalam, barangkali ada yang tertinggal, lalu kembali berjalan keluar, menyusuri lorong lalu menuju pintu utama sekolah. Disana sudah ada pak Yono, menjaga gerbang sekaligus mengingatkan barangkali ada yang berlarian ataupun menaiki sepeda, karena sepeda hanya boleh dinaiki diluar sekolah, didalam, sepeda harus dituntun.
"Mari pak" Dinda menyapa pak Yono.
"Iya dek, hati-hati" jawab pak Yono ramah.
Hampir semua anak menyapa pak Yono, dan pak Yono pun tak segan memberi senyum ramah pada mereka, kecuali satu orang.
      Tap. Tap. Tap.... Suara langkah Hendra dan Novi saling bersautan melewati jalan menuju rumah mereka,
"Ada apa Ndra"  Novi bertanya, karena melihat Hendra sedikit diam.
"Ohh, gak ada apa-apa, cuma seperti lupa sesuatu, tapi apa ya" jawab Hendra.
"Ada yang tertinggal dikelas ?"
"Ehhmmm, mungkin sudahlah, kalo memang penting nanti juga ingat sendiri, ohh iya nanti pas berangkat kita mampir rumah Rinto...., yakk RINTO......." Hendra sedikit berteriak.
"Gak usah pake teriak kali Ndra, iya iya nanti mampir"
" bukan itu, aku baru ingat"
" ingat apa, hal yang tadi kamu lupa"
"Iya, aku baru ingat, aku lupa membangunkan Rinto lagi".
"Terus gimana"
" udah lah biarin, nanti juga bangun sendiri"
" ohh, ya udahh deh"
.
.
.
.
.
Di kelas.
"Hmmmmph" pelan Rinto membuka mata
"Hoaaaamms, heh dah sepi, hemmb, Hendra lupa lagi, dasar" Rinto mengumpat dengan wajah malasnya, yang untuk sekian kalinya Ia harus pulang larut, lagi.
APA YANG BERHARGA
DARI SEGLA GEMERLAPNYA DUNIA
TANPA ORANG YANG BISA MENEMANI
APA YANG INDAH SEGALA HAL YANG KITA PUNYA
JIKAKITA HANYA SENDIRI
MEREKA YANG MENYAYANGIMU
MEREKA YANG ADA DI SAMPINGMU
MEREKA YANG ADA DISEKELILINGMU
KITA TAK AKAN TAHU,, SAMPAI KAPAN KITA BISA BERSAMA MEREKA
SENYUMAN, TAWALEPAS , GELAGAK DI UJUNG KELAS
ATAU SATU GELAS YANG KITA MINUM BERSAMA
KITA TAK AKAN TAHU
BEGITU JUGA DIRIMU, KASIH
YANG AKAN TEMANIKU HINGGA NANTI
HINGGA KU PERGI

TETAPLAH DISINI.....

Sabtu, 15 April 2017

Nanana (Nikmati saat Bersamanya) chapter 2

             Novi masih belum percaya sepenuhnya atas apa yg telah terjadi, sesuatu yg tak disangka, hal yg tak sengaja dia ketahui namun terasa langsung menghujam, dalam, mash tertancap hingga sekarang. Novi sebenarnya tahu, kalau Hendra tak akan tega melakukan hal tersebut, dia kenal betul suaminya ini.
( Kembali ke 4 tahun yg lalu)....
"Ndraa, tunggu...!!" Novi berteriak sambil masih menali sepatunya.
"Cepetaaan, kau tak mau disuruh hormat matahari lagi kan." tukas Hendra agak ketus.
"Iyaa aku tahu, aku kesiangan makanya belum beres semua" kata  Novi sambil membenarkan buku- buku yg masih semrawut didalam tas.
"Kau mngerjakan itu lagi ?"
"Iya, memangnya kenapa, ini cuma iseng kok, seandainya bisa diterima sama penerbit yaa syukur deh.."
"Yaaa, memang tak ada yg lebih menyenangkan dari mendapat bayaran dari hobi yang kita suka" jelas Hendra sembari mengangkat alisny.
"Ini bukan hobi, mana ada hobi mengumpulkan halaman koran yang slah ketik, ini hanya karena seminggu yang  lalu ada kolom yang menjelaskan kalau editornya sdg  bermasalah, jadi bnyak yg dikerjakan asal2 an dan akhirnya bnyak yg kacau, mereka tak mau koran2 ini semakin tersebar luas dan akhirnya menjadi aib bagi penerbit tersebut, mkanya semua org diminta untuk mengumpulkan koran2 itu untuk dikembalikan kesana" Novi menjelaskan panjang lebar tanpa peduli Hendra berjalan semakin cepat sambil menutup kupingnya. Lalu Novi sdkit berlari dan berteriak di telinga....
"Hendra........!!"
"Aaaaaaa, dasar kanyun, kenceng amat sih"
" habisnya orang ada yang jelasin malah ditinggal"
" udah puluhan kali aku dengernya."
" yaaa.. kan memang seperti itu Ndra, kau sendiri yang tanya."
" tapi aku tak minta kau menjelaskannya lagi."
"Agar kau ingat saja, kalau aku sedang melakukan sesuatu"
"Aku hanya butuh sekali penjelasan untuk mengingatnya, kau ingat kan siapa aku.."
" kamus kelas" ,Novi memotong kata2 Hendra.
"Dasar kanyun, muka manyun, orang belum selesai ngomg tuh jangan dipotong"
" biarin, kamu juga gitu kok" .Hendra hanya kembalj berjalan lebih cepat tanpa peduli kata2 Novi.
"Hey.....Ndra, pelan dong, kalo jalan sma cewek tuh jangan cepat2."
"Kau tahu dia tak akan mentolelir semenit saja kan"
"Tapi pelan sedikit bisa kan ?" manyun..
Hendra tak menjawab, namun bukan berarti tak mngrti, perlahan tanpa Novi sadari Ia memperlambat jalannya, mencoba mensejajarkan dirinya dengan Novi,agar teman wanitanya satu ini tak memanyunkan bibirnya, karena Hendra tahu, senyum Novi, Indah.